Memiliki sebuah hutang atau kredit bagaikan dua mata pisau, dimana jika direncanakan dengan baik, maka kebutuhan hidup dan rencana keuangan dapat terealisasikan. Sebaliknya, jika tidak didasarkan atas keputusan dan kemampuan mengelola keuangan yang bijak, maka hutang atau kredit dapat membuat kehidupan menjadi sulit. Berbicara soal kredit, Sobat BFI perlu tahu dua jenis kredit di bawah ini.
1. Kredit Produktif
Kredit produktif merupakan kredit atau pinjaman yang bertujuan untuk menghasilkan sesuatu hal, baik penghasilan maupun aset. Adapun contoh kredit produktif seperti Kredit Modal Kerja (KMK), kredit usaha, dan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR).
Sebagai contoh, Debitur mengajukan pinjaman atau kredit untuk membuka usaha mie ayam dengan jaminan BPKB kendaraan motor sebesar Rp 15 juta dengan tenor atau masa pinjaman selama 4 tahun, dimana Debitur harus membayarkan cicilan dan bunga setiap bulan selama 48 bulan. Berdasarkan estimasi, Debitur tersebut bisa mendapatkan keuntungan mulai dari Rp 2,5-9 juta. Dari keuntungan yang didapatkan, Debitur dapat membayar cicilan kredit produktif dari hasil keuntungannya tersebut dan sisa keuntungan dapat dimanfaatkan untuk lain hal.
Untuk informasi kredit produktif yang lebih lengkap, simak artikel berikut ini.
2. Kredit Konsumtif
Selanjutnya adalah kredit konsumtif yang merupakan kredit atau pinjaman uang yang dimaksudkan bukan untuk kebutuhan atau kegiatan yang menghasilkan melainkan keinginan semata. Mengajukan pinjaman dengan maksud konsumtif tidak dapat memberikan peluang keuntungan atau hasil apapun. Selain itu, jika dibandingkan dengan kredit investasi, kredit konsumtif memiliki bunga yang lebih besar karena risiko yang dihasilkan juga tergolong besar. Hal ini didukung oleh data dari Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis oleh OJK pada September 2016 lalu. Dari data tersebut disimpulkan bahwa suku bunga kredit konsumsi berada di angka 13,72%. Sedangkan kredit investasi dan modal kerja masing-masing sebesar 11,36% dan 11,62%.
3. Contoh Kredit Konsumtif
Lalu, apa saja biaya atau kegiatan yang dapat dikatakan sebagai kredit atau hutang konsumtif? Untuk lebih jelasnya, baca infonya di bawah sampai habis ya.
3.1. Biaya Pendidikan
Contoh dari kredit konsumtif adalah biaya pendidikan. Tak jarang orang melakukan pinjaman untuk biaya pendidikan yang berguna untuk masa depan. Akan tetapi, biaya pendidikan masih dikatakan sebagai kredit konsumtif.
3.2. Renovasi Rumah
Berikutnya adalah renovasi rumah. Renovasi rumah dikatakan kredit konsumtif karena biasanya didasari oleh keinginan dari pemilik rumah untuk memperindah huniannya. Namun, renovasi rumah dapat menghasilkan nilai lebih jika penghuni rumah tersebut berniat untuk menjualnya. Rumah dengan kondisi kokoh dan bagus biasanya memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
3.3. Membeli Furnitur
Selanjutnya adalah membeli furnitur, furnitur merupakan benda yang memiliki nilai kegunaan dan estetika di setiap rumah. Akan tetapi, furnitur memiliki usia pakai yang membuat furnitur tidak memiliki nilai lagi apabila barang tersebut rusak.
3.4. Pernikahan
Mengajukan pinjaman dengan tujuan mengadakan resepsi atau untuk keperluan pernikahan juga termasuk kredit konsumtif dikarenakan tidak dapat menghasilkan uang di masa depan dan didasarkan hanya untuk kepentingan dan keinginan.
3.5. Membeli Makanan Mahal
Membeli makanan yang terlalu mahal atau sering memesan makanan via jasa ojek online menggunakan fitur pay-later juga merupakan kredit konsumtif dimana Anda tidak akan mendapatkan hasil dan harus mengeluarkan uang di waktu mendatang serta membayar bunga yang ada dari layanan tersebut.
3.6. Membeli Gadget dan Gadget Terbaru
Kendaraan dan gadget merupakan dua benda yang mengalami nilai depresiasi atau penurunan aset karena usia atau durasi pakai. Hal ini yang membuat semakin lama harga kedua barang tersebut semakin turun. Membeli kendaraan terbaru atau ponsel terbaru dengan cara dicicil merupakan salah satu contoh kredit konsumtif yang biasa dilakukan oleh masyarakat dan sebaiknya dihindari. Namun, mencicil kendaraan masih dapat dikatakan menghasilkan jika dipergunakan untuk operasional usaha.
4. Cara Menghindari Kredit Konsumtif
Pada dasarnya, memiliki kredit konsumtif tidak ada salahnya selama dibayar tepat waktu. Hal ini bertujuan untuk mengindari Anda dari skor kredit dan catatan kredit yang buruk. Untuk menghindari diri dari kredit konsumtif dan lebih hemat, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan.
4.1. Membuat Anggaran
Cara pertama adalah dengan membuat anggaran dari penghasilan yang dimiliki. Jika Anda berniat membeli sesuatu, sebaiknya hindari untuk berhutang dan membeli barang sesuai dengan sisa uang yang dimiliki.
4.2. Jalani Gaya Hidup Sederhana
Selanjutnya adalah dengan menjalani gaya hidup yang sederhana. Selain dapat terhindar dari perilaku konsumtif, gaya hidup sederhana dapat meningkatkan rasa syukur, melatih diri untuk mengatur keuangan dan bertanggung jawab terhadap uang yang dimiliki, serta mengurangi risiko stres.
4.3. Biasakan Menabung
Selain itu, Anda juga bisa membiasakan diri menabung untuk menghindari hutang kredit. Anda bisa menabung terlebih dahulu sebelum membeli sesuatu. Rencanakan juga barang yang ingin dibeli sesuai dengan fungsi dan peruntukannya. Hindari membeli barang karena unsur estetikanya atau lapar mata saja.
Itulah beberapa informasi mengenai kredit konsumtif ala BFI Finance. Nah, dari penjelasan di atas, Sobat BFI lebih memilih untuk berhutang konsumtif atau tidak? Semua pilihan tergantung dari Sobat BFI ya! Jika memilih untuk berhutang konsumtif, pastikan untuk membayarnya tepat waktu dan atur keuangan dengan bijak agar kredit tidak macet.
Anda bisa mengajukan pinjaman untuk berbagai keperluan mulai dari produktif dan konsumtif di BFI Finance dengan jaminan BPKB mobil, motor, hingga sertifikat rumah. Untuk informasi produk dan pengajuan, klik link berikut.